Dunia pendidikan dan psikologi Islam di Indonesia memiliki utang budi besar pada sosok Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat. Lahir di Jorong Koto M...
Dunia pendidikan dan psikologi Islam di Indonesia memiliki utang budi besar pada sosok Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat. Lahir di Jorong Koto Marapak, Agam, Sumatera Barat, perempuan keturunan Minangkabau ini membuktikan bahwa identitas "Orang Awak" yang religius dan haus ilmu adalah modal utama untuk menaklukkan dunia. Sejak kecil, ia sudah ditempa di surau dan sekolah agama, membawa semangat merantau khas Minang hingga ke jantung peradaban ilmu di Mesir.
Titik awal kariernya dimulai dengan sangat bersahaja namun penuh disiplin. Di usia 7 tahun, Zakiah kecil sudah harus membagi waktu antara sekolah umum dan Diniyah School. Menariknya, saat masih duduk di bangku kelas 4 SD, ia sudah "dipaksa" oleh gurunya untuk berdiri berpidato di hadapan guru dan kakak kelasnya. Keberanian bocah SD yang sempat mengalami pahitnya masa Agresi Militer Belanda II inilah yang kelak membentuk mental bajanya hingga menjadi satu-satunya mahasiswa perempuan Indonesia di Universitas Ain Shams, Kairo, pada tahun 1956.
Perjalanan hidupnya mencapai titik balik yang luar biasa saat ia menginjakkan kaki di Mesir. Di tengah dominasi teori psikologi Barat, Zakiah justru memperkenalkan pendekatan Islam dalam menyembuhkan jiwa. Prestasinya begitu gemilang hingga ia dianugerahi "Medali Ilmu Pengetahuan" langsung oleh Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasir. Tak hanya berprestasi, dari penghasilannya mengajar bahasa di Kairo, ia berhasil memboyong kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji—sebuah bentuk bakti yang sangat mengharukan bagi seorang putri perantau.
Sekembalinya ke tanah air, Zakiah menjadi tokoh kunci yang mengubah nasib jutaan siswa madrasah. Dahulu, lulusan sekolah agama sering dipandang sebelah mata dan sulit diterima di universitas umum. Namun, melalui SKB Tiga Menteri tahun 1975 yang ia bidani, Zakiah berhasil memperjuangkan agar ijazah madrasah diakui setara dengan sekolah umum. Kebijakan berani inilah yang menjadi pintu masuk bagi anak-anak madrasah untuk bisa menjadi dokter, insinyur, hingga menteri di kemudian hari.
Kehebatan Zakiah juga diakui oleh Presiden Soeharto. Ia sering diminta menjadi penerjemah bahasa Arab saat Pak Harto berkunjung ke Timur Tengah. Meski pernah menjabat sebagai Direktur di Kementerian Agama, anggota MPR, hingga menjadi perempuan pertama yang menduduki kursi Ketua MUI, ia tetap pribadi yang bersahaja. Zakiah tetap membuka praktik konsultasi psikologi di rumahnya dan seringkali tak mau menerima bayaran dari pasiennya, dengan prinsip "kalau mereka memberi, saya terima."
Hingga akhir hayatnya di usia 83 tahun, sosok yang dijuluki "Hamka versi Muslimah" ini tetap setia mengajar di UIN Syarif Hidayatullah. Ia mewariskan teladan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan keteguhan iman. Bagi generasi yang besar di era 70-an hingga 90-an, suara lembutnya saat memberikan ceramah di RRI dan TVRI akan selalu menjadi kenangan yang menyejukkan hati.
Sumber: Wikipedia - "Zakiah Daradjat" Sumber: Republika - "Profil Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat"
#ZakiahDaradjat #TokohMinang #InspirasiMuslimah #SejarahPendidikan #TokohNasional #PsikologiIslam #Madrasah #SumateraBarat #PerempuanHebat #NostalgiaTokoh

👍👍
BalasHapusMasya Allah Luar biasa
BalasHapus