Nama Abdul Karim Rasyid mungkin belum sepopuler Bung Hatta atau Sutan Sjahrir di buku pelajaran sekolah. Namun, jika kita menilik rekam jeja...
Nama Abdul Karim Rasyid mungkin belum sepopuler Bung Hatta atau Sutan Sjahrir di buku pelajaran sekolah. Namun, jika kita menilik rekam jejaknya, pria kelahiran Batang Kapas, Pesisir Selatan ini adalah "raksasa" yang membawa nama harum Ranah Minang hingga ke panggung internasional.
Ia adalah bukti nyata dari pepatah Minang: "Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun." Abdul Karim pergi merantau sebagai pemuda biasa, dan pulang sebagai pahlawan bangsa.
Berawal dari Kapur Tulis di Tanah Jiran
Siapa sangka, sosok yang kelak menyandang pangkat Jenderal ini memulai kariernya sebagai seorang pendidik. Pada tahun 1930, di usia yang baru 16 tahun, Abdul Karim memutuskan untuk merantau ke Malaysia.
Bukan untuk bekerja kasar, ia justru menempuh pendidikan di Sultan Idris Training College (SITC). Kecerdasannya membawanya menjadi guru di Klang, Selangor. Namun, darah pejuang sudah mengalir di nadinya. Di sela-sela mengajar, ia ikut mendirikan Kesatuan Melayu Muda (KMM) pada 1938—sebuah organisasi pergerakan yang menjadi duri dalam daging bagi kolonial Inggris di Malaysia.
Panggilan Pulang: Melepas Kapur, Mengangkat Senjata
Titik balik hidupnya terjadi saat Indonesia memanggil. Atas ajakan Presiden Soekarno, Abdul Karim melepaskan zona nyamannya di Malaysia untuk bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA).
Transformasinya luar biasa. Dari seorang guru yang memegang kapur, ia berubah menjadi komandan gerilya yang tangguh. Keberanian dan kecerdasannya di medan tempur membuatnya terus naik pangkat. Sejarah mencatat, Abdul Karim Rasyid adalah putra asli Sumatera Barat pertama yang berhasil meraih pangkat Jenderal di TNI. Sebuah kebanggaan luar biasa bagi masyarakat Pesisir Selatan khususnya, dan Sumbar pada umumnya.
Diplomat Kesayangan Bung Karno
Karier Abdul Karim tidak berhenti di barak militer. Presiden Soekarno rupanya mencium bakat lain dalam diri sang Jenderal: kemampuan bernegosiasi dan penguasaan bahasa yang mumpuni.
Pada tahun 1962, ia mengukir sejarah baru dengan dilantik sebagai Duta Besar RI pertama untuk Kerajaan Kamboja. Di sana, ia meletakkan fondasi hubungan diplomatik yang sangat kuat. Kedekatannya dengan para pemimpin negara membuatnya menjadi salah satu "tangan kanan" diplomasi Bung Karno, sebelum akhirnya melanjutkan tugas sebagai Dubes di Filipina.
Warisan untuk Generasi Muda
Abdul Karim Rasyid wafat pada tahun 1983 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Meski jasadnya jauh dari kampung halaman, namanya abadi di hati masyarakat Batang Kapas.
Kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa tak ada batas bagi seorang putra daerah. Bermula dari desa kecil di Pesisir Selatan, merantau menjadi guru, hingga menjadi Jenderal dan Diplomat yang disegani di Asia Tenggara.
Ia bukan sekadar tokoh sejarah; ia adalah inspirasi bagi setiap anak muda Minang bahwa pendidikan dan keberanian adalah kunci menaklukkan dunia. (Wikipedia)
Sumber: Bandasapuluah - "Profil Abdul Karim Rasyid: Pejuang, Jenderal, dan Dubes Pertama RI di Kamboja dari Pesisir Selatan"
#AbdulKarimRasyid #TokohMinang #PesisirSelatan #SumateraBarat #SejarahIndonesia #PahlawanMinang #BatangKapas

👍👍
BalasHapus